Oleh-oleh Seminar Nasional Kiat Sukses Kelola Klinik di Era JKN UHC 2019

Salah satu passion saya adalah manajemen, dan karena profesi saya seorang dokter saya memilih untuk menggeluti manajemen klinik dan selanjutnya In syaa Allah belajar lebih dalam tentang manajemen Rumah Sakit.

Sejak Februari 2015 saya diamanahi menjadi Penanggung Jawab dan Kepala Klinik Darul Arqam Muhammadiyah Garut. Berawal dari pengabdian setelah lulus dari Fakultas Kedokteran UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada Juli 2012 sampai Juli 2015. Tiga tahun mengabdi untuk menunaikan janji dan sebagai rasa syukur karena wasilahnya saya bisa menjadi dokter dengan adanya Program Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB) Kementrian Agama melalui Pondok Pesantren di seluruh Indonesia.

Empat bulan menjelang pengabdian berakhir saya dihubungi oleh Pimpinan Pondok Pesantren Darul Arqam untuk menjadi Kepala Klinik Darul Arqam karena dokter yang sebelumnya keterima PNS dan pindah tugas. Dengan pertimbangan panjang dan amanah orang tua maka saya terima tawaran ini. Modal nekad juga karena sebelumnya belum pernah jadi manajer klinik. Laa haula quwwata illa billaah, semoga Allah memudahkan jalannya. Aamiin…. Mengabdi dan bekerja di Darul Arqam serasa kembali ke rumah sambil mengenang memori remaja semasa menjadi santri dari tahun 1999 – 2005. Hehe

Judulnya learning by doing, belajar sambil bekerja. Terus belajar tentang manajemen klinik baik melalui buku, seminar atau studi banding ke klinik yang lebih maju. Mumpung masih muda harus semangat 45 demi kemajuan Klinik Darul Arqam ūüôā

Pas lihat poster Seminar Nasional Kiat Sukses Kelola Klinik di Era JKN – UHC tahun 2019 dengan Guest Speaker dr. Novi Ariani dan Dra. Lente, Apt saya semangat banget untuk ikut. Tempatnya juga di Tasik, tetanggaan sama Garut, bebas macet. Cuss… Langsung daftar seminar dan workshop mumpung masih dapet early bird. Eh ternyata pas kemarin registrasi nama saya ada di urutan nomor 1, berarti pendaftar pertama, semangat banget ya.hihi…

Seminar ini keren dan saya sangat bersyukur karena banyak dapet ilmu dan inspirasi dari orang-orang hebat. Ilmu klinisnya dapet, manajemennya juga dapet banget. Materi seminar diawali dengan Kebijakan Strategis Klinik dari Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya. Kadinkes menegaskan pengelola dan penanggung jawab klinik harus mematuhi aturan Permenkes No. 9 tahun 2014 tentang Klinik, selain itu sebelum tahun 2021 semua klinik harus mengikuti akreditasi klinik. Masih ada persiapan untuk membenahi tata kelola klinik.

Sesi I seminar ini tentang:

Perlindungan Hukum terhadap Praktisi Klinis oleh dr. Ali Firdaus, Sp,A, S.H. MH.Kes, sudah ada undang-undang yang mengaturnya tapi belum tersosialisasi dengan baik. Kasus hukum yang terjadi kebanyakan karena adanya kesalahan komunikasi antara dokter dan pasien. Kasus hukum ini dapat berupa aspek etika yang akan diproses di MKEK ataupun aspek disiplin yang akan diproses di MKDKI. Untuk terhindar dari kasus hukum seorang dokter harus melakukan 3 hal: 1. Fahami, taati, dan jalankan KODEKI (Kode Etik Kedokteran Indonesia). 2. Pegang teguh disiplin profesi kedokteran. 3 Fahami hukum kedokteran.

Manajemen Klinik Modern oleh dr. Novi Arifiani, MKK, Dopl. ABRAAM, AAK, seorang dokter yang out of the box dan sedang mengembangkan brandnya sebagai dokter keluarga dengan pendekatan kedokteran fungsional dan berpraktek di Bio Balance Clinic. Di era disrupsi saat ini sudah terjadi perubahan manajemen, pendekatannya bukan konvensional lagi tapi manejemen modern. Kalau mau maju kita harus mengikutinya. Ga bisa santai, lihat saja taxi blue bird yang akhirnya kalah oleh Go Jek. Berubah atau Kalah. Dalam manajemen konvensional selalu mengedepankan volume pasien dan fee for services, tapi sekarang lebih mengejar kualitas pelayanan dan digalakan asuransi untuk semua masyarakat seperti Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Berikut langkah perubahan menuju manajemen modern dari dr. Novia:

  1. Identifikasi market; a. Kompetisi, b. Populasi, c. Pembayar, d. Pola Penyakit
  2. Tentukan target finansial yang ingin dicapai dan transformasi pelayanan; a. Tentukan batas bawah finansial, b. Kontrak yang ada, c. Banyaknya target pelanggan, d. Buat perencanaan waktu, e. Investasi apa yang dibutuhkan
  3. Analisis sumber daya yang ada termasuk jejaring yang dimiliki; a. Perubahan model desain yang dikembangkan, b. Perencanaan ketenagaan, c. Kolaborasi jaringan, d. Tentukan dan sepakati kinerja masing-masing staf pelayanan
  4. Tentukan kebutuhan populasi kita; a. Kembangkan koordinasi pelayanan –> TKMKB (Tim Kendali Mutu Kendali Biaya), b. Stratifikasi risiko populasi, c. Tentukan staf dan teknologi yang digunakan, d. Evaluasi secara berkala (coding, billing, clinical outcome, patient engagement)

Sesi II seminar ini tentang materi klinis:

  1. Penanganan penyakit jantung koroner di FKTP (Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama) oleh dr. Fanny Fauziah Abdullah, SpJP, M.Kes, FIHA
  2. Penanganan scabies oleh dr. Rangga Mudita, SpKK, M.Sc
  3. Perawatan kaki diabetes oleh Asep Kuswanda, M.Kep, Sp.KMB

Setelah ishoma dilanjutkan dengan presentasi fitur sistem manajemen klinik dari Medico. Menurut saya aplikasinya oke banget bisa bridging dengan PCare BPJS Kesehatan jadi ga usah dua kali nginput. Fiturnya lengkap berjejaring dengan MIMS juga. Berbayar setiap bulannya. Info lebih detail kunjungi web Medico ya.

Sesi III seminar ini tentang:

BPJS oleh Ridha Mugiar, Apt. Menyampaikan kebijakan pemerintah tentang akan diberlakukannya Universal Health Coverage pada tahun 2019. Semua peserta diminta kerjasamanya untuk mengajak seluruh masyarakat mengikuti program JKN KIS dan tidak menunggak iurannya bagi peserta non-PBI. Selain itu, semua FKTP diharapkan dapat memberikan pelayanan yang baik.

Solusi tantangan klinik oleh Dra. Lente Melanie, Apt, pemilik Klinik Medika Antapani Bandung yang berprestasi di tingkat provinsi dan nasional. Mempunyai 2 klinik pratama dan 2 klinik utama dengan 55,000 peserta JKN. Amazing… Ternyata perjuangan banget meraihnya. Klinik ini sudah berdiri sejak tahun 1989, 2011 bekerja sama dengan ASKES dengan kapitasi 3000 orang. Begitu BPJS buka di tahun 2014 kapitasinya terus bertambah seiring dengan kepercayaan dari masyarakat dan berbagai upaya yang dilakukan seperti penyuluhan setiap bulan dan gerakan pungut sampah. Menurut Bu Lente, supaya bisnis klinik kita kuat tekadkan bahwa kita ingin membantu menyehatkan masyarakat supaya Indonesia kuat. Buat inovasi. Bangun tim yang solid. Rutin evaluasi. Mantap banget ni Bu Lente walaupun usianya sudah 61 tahun tapi tetap enerjik dan selalu memberi inspirasi positif.

Terakhir adalah sesi workshop tentang Personal Branding oleh dr. Novi Arifiani, MKK, Dopl. ABRAAM, AAK, menurutnya personal branding ini sangat penting apalagi di era digital sekarang ini yang tidak lepas dari media sosial. Kita pun sebagai seorang praktisi kesehatan harus bersahabat dengan teknologi, rajin membuat tulisan-tulisan bermanfaat. Di medsos akan terlihat sifat seperti apakah kita, suka posting hal-hal positif atau negatif, dan itu akan dinilai oleh orang lain. Berhati-hatilah dalam bermedsos. Personal branding ini berbeda dengan advertising, dia itu semacam soft selling.

“Walaupun hi-tech jangan lupa hi-touch” artinya walaupun teknologi sudah canggih jangan lupa sentuh hati pasien.

Keren banget quotes dari Asep Kuswanda, M.Kep, Sp.KMB.

Terima kasih kepada narasumber dan panitia atas penyelenggaraan seminar ini.

Jazakumullah khoiron katsiro