IBU SIAGA COVID-19

Covid-19, Siapakah Dia?

Yuk, kenalan dulu dengan Covid-19

Angka kasusnya terus meningkat dan sudah menyebar hingga ke 223 negara (lihat gambar). Pada Maret 2020 WHO sudah menetapkan Covid-19 sebagai pandemi (wabah dunia). Di Indonesia, kasus positif pertama diumumkan pada tanggal 2 Maret 2020.

Sebaran Kasus Covid-19 per 12 April 2020

Covid-19, Putus Rantai Penularannya

Covid-19 adalah hot issues, menjadi perhatian dan kegalauan seluruh penduduk dunia. Penularannya sangat masif. Ditularkan secara langsung melalui droplet saat batuk, bicara, dan bersin, serta secara tidak langsung melalui droplet yang menempel pada permukaan benda mati. Social distancing dan physical distancing menjadi salah satu cara yang efektif untuk memutus rantai penularannya. Tagar #stayathome, #dirumahaja, #workfromhome menjadi tranding topic di berbagai sosial media. Selain itu juga Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) betul-betul dijalankan. Gerakan memakai masker untuk semua orang juga mulai digaungkan.

Covid-19, Siapkah Melawannya?

Saat Covid-19 belum sampai ke Indonesia. Saya masih tenang dan terus mengikuti perkembangannya melalui media sosial. Setelah ditemukan kasus positif di Indonesia pun saya masih berakftivitas biasa dan tanggal 13 Maret ke Jakarta untuk menandatangani Grand Contract Hibah Grassroot untuk Klinik Darul Arqam di Kedubes Jepang untuk Indonesia. Di sana sudah mulai ada skrining suhu dengan termometer infrared di Bagian Keamanan . Bagi yang suhunya > 38 C dilarang masuk.

Dua hari setelah pulang dari Jakarta, yaitu tanggal 15 Maret di Garut mulai heboh. Rupanya angka kasus Covid-19 ini terus meningkat sehingga Bupati mengeluarkan Surat Edaran untuk meliburkan sekolah dan menganjurkan masyarakat untuk #dirumahaja selama 2 minggu (16-29 Maret). Saya juga dipanggil Pimpinan Pondok Pesantren Darul Arqam Muhammadiyah Garut untuk Rapat dengan Struktural Pondok dan mengambil sikap dalam menghadapi Covid-19. Santri diliburkan selama 2 minggu dan diberi sosialisasi tentang Covid-19 sebelum dipulangkan ke rumah masing-masing. Melihat perkembangan kasus yang semakin meningkat dan banyak santri dari Zona Merah Covid-19 akhirnya kami memutuskan santri #belajardarirumah sampai 29 Mei 2020.

Mulai tanggal 15 Maret ini kondisi Covid-19 di Garut mulai mendapat perhatian khusus, mulai heboh, banyak yang galau dan cemas. Apalagi dengan dampak ekonomi yang ditimbulkan, terutama bagi wiraswasta yang mengandalkan pendapatan harian.

Untuk saya dan teman-teman Klinik Darul Arqam tentunya tidak bisa libur. Justru kami harus siap siaga. Di awal, terjadi kepanikan karena Alat Pelindung Diri (APD) dan beberapa media yang dibutuhkan belum lengkap. Stok terbatas dan harganya fantastis. Kami terus berusaha mencari dan melengkapinya. Alhamdulillaah ada rezekinya, ada yang membeli dan dapat donasi juga. Sekarang kami sudah tenang dan siap siaga menghadi Covid-19 ini.

Makhluk halus ini menjadi lawan perang yang begitu kecil tak terlihat, namun efeknya sangat dahsyat. Memutar balikkan kehidupan manusia hingga 360 derajat. Mengubah tatanan dunia dan memberi dampak terhadap semua sendi kehidupan. Betapa kuasanya Allah SWT, Ya Allah mampukanlah kami menghadapi situasi ini dan segera angkatlah wabah ini. Aamiin…

Lawan Covid-19, Zona Mana yang Kamu Pilih?

Situasi pandemi Covid-19 ini banyak memberi ketidakpastian. Tapi, mengeluh juga tidak akan menjadi solusi. Penerimaan dengan kesadaran penuh dan rasa optimis harus terus dipupuk. Kepedulian terhadap sesama harus ditingkatkan. Saya memilih untuk menjalani Zona Bertumbuh, membuat project bersama dengan lingkungan kerja (Pondok & Klinik Darul Arqam Muhammadiyah Garut) serta komunitas (Muhammadiyah dan Ibu Profesional).

Siapakah Aku di Era Covid-19?

Dalam blog ini saya akan bercerita tentang mini project bersama Ibu Profesional, yang diberi nama IBU SIAGA COVID-19.

Ibu Siaga Covid-19, Siapa Takut?

Sejak dibuka pengumuman untuk menjadi Ibu Siaga Covid-19, maka saya langsung mendaftarkan diri. Karena saya ingin belajar banyak dari kegiatan ini. Di Komunitas Ibu Profesional itu banyak orang hebat yang mau berbagi dan melayani. Kenyataannya memang iya segudang ilmu didapat. Alhamdulillaah 🙂

Di akhir Maret dibuatlah grup Ibu Siaga Covid-19, yang dalam perkembangannya menjadi Mabes Ibu Lawan Corona. Ada program tambahan dengan Ibu Bantu Ibu. Kedua program ini dibantu oleh seluruh komponen Ibu Profesional.

Ibu Siaga, fokus untuk membantu anggota ibu profesional yang menjadi ODP atau PDP yang dirawat mandiri di rumah.

Ibu Bantu Ibu, fokus untuk membatu para ibu di sekitar tempat tinggal member Ibu Profesional yang terdampak physical distancing maupun karantina wilayah, baik secara ekonomi maupun psikologis.

Diskusi whatssapp diawali dengan perkenalan dan pemetaan keahlian. Setelah data terkumpul disusunlah Tim, yang terdiri dari Panglima Perang, Tim Edukasi, Tim Desain, Tim Logistik, Tim Data. Untuk pengumpulan donasi dikoordinir oleh Sejuta Cinta Ibu Profesional Pusat.

Saya masuk di Tim Edukasi sesuai dengan profesi sebagai Dokter. Saya ditugaskan untuk Konsultasi Online setiap Selasa jam 16.00-18.00 dan Kuliah Daring tentang “GERMAS Cegah Covid-19” Selasa 14 April 2020. Ini adalah pengalaman pertama untuk saya. I’m very excited 🙂

Ginna, Ibu Siaga Covid-19

Paramater keberhasilan dari mini project ini adalah saya dapat menjawab pertanyaan saat konsultasi serta memberikan kuliah daring dengan baik dan dapat dipahami audience.

Terima kasih Ibu Profesional dan Ibu Septi Peni W yang telah banyak memberi inspirasi terbaik untuk saya. Tetap optimis dan jangan lupa bahagia. Mari kita berbagi kebahagiaan, bukan beban penderitaan.

Bahagia itu bukan berarti segala sesuatunya harus berjalan dengan baik. Bahagia itu adalah ketika kita bisa menerima kondisi yang ada dengan respon dan pola pikir yang baik. Septi Peni Wulandani